Bab 2: Pengantar Teknologi RFID (3) January 31, 2008
Posted by turasto in Buku, ebook, Elektronika, Mikrokontroller, Perangkat Keras, Talk.Tags: Pengantar Teknologi, Radio Identification, RFID, Turasto
add a comment
2.3 Komponen Utama RFID
RFID sebagai teknologi identifikasi mempunyai 2 komponen utama, yaitu Reader dan Transponder (umum dikenal sebagai Tag). Transponder merupakan suatu media yang menyimpan kode unik yang digunakan sebagai identifikasi. Transponder ditempelkan pada media yang ingin diidentifikasi. Sedangkan Reader merupakan perangkat yang digunakan untuk mengekstrak kode unik yang tersimpan pada Transponder.
Gambar 2.4 (a) Transponder , (b) Reader
Transponder pada dasarnya merupakan suatu perangkat komunikasi Radio. Sebuah Transponder dapat berupa pemancar dan penerima (Transceiver : Transmitter -Receiver) gelombang Radio. Meski dapat pula suatu transponder hanya berupa perangkat pancar gelombang radio. Pemilihan teknologi ini tergantung jenis mode komunikasi yang digunakan. Pada mode Read-Only,yaitu mode dimana hanya melibatkan kegiatan baca saja dan tidak melakukan kegiatan tulis, transponder umumnya hanya berupa Transmitter karena tidak diperlukan pengiriman informasi untuk ditulis Tag oleh Reader. Sedangkan pada mode Read-Write dapat dipastikan transponder adalah suatu transceiver. Tag mampu menerima perintah dan bahkan informasi dari Reader untuk kemudian dieksekusi maupun disimpan.
Sistem RFId dengan transponder bersifat transciever dapat menerapkan teknologi akses jamak, yaitu kemampuan untuk melakukan pembacaan 2 atau lebih transponder pada masa yang sama. Teknologi ini selain meningkatkan efisiensi proses pembacaan juga dapat memastikan tidak adanya kesalahan baca pada saat terdapat lebih dari 1 kartu pada daerah baca.
Gambar 2.4 Ukuran Transponder
Sebagai perangkat komunikasi radio, Transponder dapat dibangun dalam ukuran yang kecil dan tipis. Kondisi ini dimungkinkan oleh karena transponder memanfaatkan teknologi radio yang cukup sederhana dan juga proses produksi transponder yang memanfaatkan teknologi silikon. Hingga saat ini, transponder dapat diproduksi hingga setipis label kertas. Umumnya, suatu transponder diproduksi dalam bentuk yang kompak tanpa menggunakan baterai disebut sebagai Transponder pasif. Pasif disini diartikan sebagai kondisi dimana tidak adanya elemen pemberi energi internal semacam baterai. Sebagai gantinya, energi didapat dari udara melalui ekstraksi GEM oleh Transponder. Reader senantiasa diradiasikan oleh Reader untuk memastikan radiasi GEM cukup untuk mengoperasikan Transponder.
Transponder mempunyai berbagai macam jenis, rupa dan bentuk . Umumnya, bentuk ini disesuaikan dengan fungsi dari Transponder tersebut. Selain itu juga dipengaruhi oleh parameter-parameter gelombang radio yang digunakan, pemilihan frekuensi khususnya akan berdampak langsung pada jenis antena dan dimensi yang harus digunakan. Sebagai contoh, pada range Low Frequency (LF) dan High Frequency (HF) umumnya digunakan antena berbentuk loop dengan jumlah putaran tertentu. Sedangkan pada range Ultra High Frequency (UHF) digunakan antenna Dipole λ/2. Akibatnya, mau tidak mau , dimensi antenna akan memberikan implikasi terhadap bentuk dan ukuran transponder.
Belum lagi pemilihan terhadap kemampuan jarak baca perangkat yang menentukan apakah digunakan komponen pencatu aktif atau tidak. Suatu transponder dengan pencatu aktif akan menuntut dimensi transponder yang lebih besar dan tebal.
Ebook Untuk Indonesia December 12, 2007
Posted by turasto in Buku, ebook.Tags: download gratis, e-book, e-book indonesia gratis, ebook, ebook gratis, ebook indonesia, Gratis
4 comments
Nah ini baru buatan lokal….
Web ini di host oleh orang-orang Indonesia yang share ebook yang cukup langka.
Silakan mampir ..
peace!
BR//Aji
Ebook untuk Kuliah December 12, 2007
Posted by turasto in Buku, ebook.Tags: Bussiness, Computer, download gratis, ebook, Komputer, rapidshare, Rapidshare.com, Referensi buku, referensi kuliah, telecommunication
add a comment
Jadi inget masa-masa kuliah. Kopi sana kopi sini. Mencari referensi dari perpustakaan. even, lintas kampus.
Kalo inget masa** itu, jadi tersenyum…
Jadi inget pula masa-masa mencari buku yang belum pernah ada di Indonesia. Dan ada di luar negeri harganya jutaan.
Jadi tersenyum senyum lagi..
![]()
Saat ini, untuk mengenang diriku dimasa lalu. Mo berbagi beberapa buku ebook di Internet. Yah, sapa tau berguna.
Referensi ini cukup lengkap. Hanya tinggal download.
Ada baiknya mulai berlangganan Rapidshare.com 100rb/bulan secara iuran dengan 3-10 orang misalnya.
Ok!
Peace!
RFID for Indonesia December 9, 2007
Posted by turasto in Uncategorized.Tags: , Harga RFID, informasi RFID, Pusat RFID, referensi RFID, RFID indonesia, RFID untuk Indonesia
add a comment
Hi Rekans,
RFID adalah suatu teknik otomasi yang cukup menarik. Saya pribadi yakin, teknologi ini akan menempati posisi yang cukup kritis pada masa depan, bahkan sekarangpun sudah mulai menunjukkan eksistensinya.
Blog ini saya buat untuk mendedikasikan untuk Bangsa Indonesia demi kemajuan bangsa.
Informasi di blog ini, dapat juga dilihat pada blog “gado-gado” yang merupakan embrio blog ini : http://turasto.wordpress.com
BR//Aji
Bab 2: Pengantar Teknologi RFID (2) December 3, 2007
Posted by turasto in ebook, Mikrokontroller, Talk.Tags: Gratis, Mifare, RFID, RFID Iso1443, Smart Card
4 comments

Gambar 2.3 Automasi Identifikasi
(a) Barcode, identifikasi per item, (b) RFID, identifikasi multi item
RFID muncul sebagai media identifikasi otomasi yang mampu mengatasi kelemahan teknologi Barcode. Hal ini dimungkinkan karena teknologi ini tidak memanfaatkan medium optis melainkan menggunakan media udara melalui perantara Gelombang Elektromagnetik (GEM). GEM dapat menjalarkan suatu informasi melalui udara hampir tanpa kendala yang berarti. Oleh karenanya pada proses identifikasi RFID tidak disyaratkan hal-hal semacam Barcode. RFID tidak membutuhkan kondisi LOS, jarak baca lebih jauh (hingga lebih dari 10 m pada mode Backscatter), tidak dibutuhkan posisi pembacaan khusus dan mampu mengidentifikasi lebih dari 100 item per detik. Bahkan, barang atau media yang ingin diidentifikasi cukup sekilas melewati suatu alat pembaca (baca: Reader) dan media tersebut sudah dapat diidentifikasi (gambar 2.3).
Teknologi RFId memanfaatkan komponen chip memori yang mampu menampung informasi lebih banyak. Apalagi mengingat teknologi ROM (Read Only Memory) yang telah sampai pada kemampuan tulis dan baca secara elektrik , EEPROM. Maka, tidaklah mengherankan bila teknologi RFID mampu tidak sekedar membaca kode tetapi bahkan menyimpan kegiatan transaksi pada memori. Selain itu, kapasitas memori sebuah Transponder pun memungkinkan bervariasi dari kapasitas 64 bit , yang berisi kode unik saja, hingga 64kB yang mampu menyimpan kegiatan transaksi hingga orde ratusan.
Teknologi RFID mengadopsi teknologi akses jamak untuk mendukung kemampuan pembacaan multi tag. Dengan teknologi tersebut, beberapa transponder dapat diidentifikasi, diproses secara simultan. Sehingga, pemakaian teknologi ini cukup praktis. Pembacaan barang-barang dapat dilakukan secara simultan dan bahkan tanpa perlu campur tangan manusia karena penggunaan media GEM.
Alasan yang cukup kuat kenapa RFID lebih unggul daripada Barcode adalah imunitasnya terhadap kondisi lingkungan buruk. Berbeda dengan Barcode yang terpengaruh kondisi lingkungan semacam air, debu dan kondisi buruk lainnya, suatu transponder terbebas dari pengaruh tersebut. Pembacaan berjalan lancar baik pada kondisi terburuk dengan menggunakan teknologi RFID. Hal ini tentunya melegakan bagi pemakai teknologi identifikasi khususnya barcode yang ingin bermigrasi pada teknologi RFID.
Umumnya, penulisan kode barcode dilakukan pada sebuah media tertentu dengan cara cetak yang dapat dilihat secara langsung. Kode dengan jelas terpampang dalam pola-pola tertentu yang sangat mudah ditiru. Kondisi demikian, cukup rentan terhadap pembobolan dan duplikasi. Apalagi bila aplikasi diterapkan pada bidang Access Control, yaitu pembatasan akses pada ruang tertentu berdasar hak yang dimilikinya. Teknologi RFID mempunyai kemampuan enkripsi baik dari sisi kanal RF maupun memori. Duplikasi tidak dengan mudah dapat dilakukan meskipun mungkin. Setidaknya dalam beberapa level, teknologi RFID mampu memberikan jaminan keamanan dibandingkan Barcode.
Implementasi teknologi RFID tidak terbatas pada bidang identifikasi barang, melainkan dapat diterapkan hampir disemua jenis otomasi identifikasi. Beberapa diantaranya adalah Access Control, E-payment, Identifikasi hewan, dan Anti pencuri.
RFID – Thank You November 18, 2007
Posted by turasto in Buku, ebook, Elektronika, Komputer, Perangkat Keras, Talk, Telco.Tags: Buddy talk, desain RFID, Interface, ISO 14443, ISO14443, Mikrokontroller, pembahasan RFID, powerless, RFID, RFID indonesia, TAG, Text To Speech, Transponder
3 comments
Hi Guys,
Thank udah mo mampir ke blog gw. Terutama penggemar RFID. Saya tidak mengira respon terhadap materi yang saya muat disini cukup menarik perhatian. Melihat traffic yang begitu besar terhadap perhatian teknologi RFID tersebut, sempat kaget juga. Manthab!
Dimulai dari 2 tahun yang lalu ketika saya sedang meneliti tentang kharakteristik gelombang elektromagnetik khususnya pada : Near Field dan Far Field, hobby coding , design embedded system dan spesifik ketertarikan pada pemancar+ antenna readio, akhirnya jadilah sebuah riset tentang RFID. Lebih lengkapnya riset ini membahas standar ISO14443 untuk implementasi RFID pada smart card dengan metode NEAR FIELD : INDUKTANSI. Kemudian penelitian tersebut saya satukan menjadi sebuah Skripsi (TA = Tugas Akhir, istilah kampus gw) yang berjudul ” Identifikasi Berbasis Gelombang Radio” yang berisi tentang eksperimen kecil RFID yang mencakup desain perangkat(teoritis), pembuatan hardware/software (Assembly and VB), penggunaan text to speech (pake engine nya Microsoft), Buddy Talk, database akses, interface Hardware ke komputer dan …. pembuatan kartu identifikasi “powerless” dengan biaya kurang dari 30ribu hehehe… (prototype lah… mahal di PCB double layer nih, bayangin rapid production nya).
Pada kesempatan berikutnya, gw mo coba untuk menuliskan materi tersebut pada sebuah buku. Ini tidak terlepas dari pentingnya share pengetahuan tentang teknology yang berkembang pesat ini. Bab 1 dan 1/2 dari Bab 2 sudah sudah saya upload pada web ini. Akan coba istiqomah untuk bab berikutnya
Bagi temen** yang sudah mampir, melihat, dan membaca draft buku RFID ISO14443 tersebut, pertanyaan/komentar/ /kritik anda dinantikan
Mari kita bangun budaya menulis (riset) demi kemajuan teknologi bangsa….
BR//
Turasto Aji Dharma
BAB 2: PENGANTAR TEKNOLOGI RFID November 7, 2007
Posted by turasto in Buku, ebook.Tags: Buku elektronika, identifikasi, Indonesia, Mikrokontroller, Radio Frequency Identification, RF, RF ID, RFID, Smart Card
4 comments
Tujuan :
- Mengetahui latar belakang teknologi RFID
- Memahami kelebihan teknologi RFID
- Mengetahui jenis-jenis teknologi RFID
- Memahami cara kerja teknologi secara umum
- Mengerti bidang-bidang yang telah menerapkan teknologi RFID
Teknologi Radio Frequency Identification (RFID) merupakan inti dari sebuah Contactless Smart Card (CSC). Oleh karenanya diperlukan pengetahuan mengenai teknologi RFID untuk mendalami teknologi CSC. Pembahasan mengenai teknologi RFID pada bab ini akan ditinjau secara meluas dan tidak dibatasi pada aplikasi Smart Card. Materi ini akan mengantarkan pada pemahaman aplikasi RFID yang merupakan teknologi kunci dari Contactless Smart Card.
Teknologi RFID pada dasarnya merupakan teknologi identifikasi secara mandiri (baca: automatis). Pembahasan mengenai teknologi ini tak lepas dari teknologi identifikasi automatis lainnya yang sudah ada khususnya Barcode. Barcode merupakan teknologi Identifikasi yang cukup luas digunakan dan kini mulai tergeser fungsinya oleh teknologi RFID. Sehingga, pembahasan RFID tidak akan lepas dari keberadaan Barcode khususnya pada bidang manajemen barang dan produk.
2.1 Teknologi Auto ID
Teknologi adalah kunci untuk mengatur perputaran barang dan produk, meski demikian terdapat gap antara dunia digital dengan dunia fisik. Suatu data mungkin dapat merepresentasikan keadaan objek secara fisik meskipun tidak terhubung secara langsung terhadap objek tersebut. Suatu masukan data pada suatu basis data yang menunjukkan bahwa barang tersimpan pada suatu lokasi (misal : gudang), pada dasarnya tak lebih dari hasil interaksi sekilas manusia. Interaksi tersebut telah berlangsung pada waktu lampau dan bersifat sementara. Meskipun demikian, basis data tersebut dianggap valid hingga pengecekan berikutnya (re-check).
Kondisi ini pada akhirnya berubah dengan adanya Automatic Identification (Auto-ID). Auto-ID merupakan komponen utama dalam otomasi identifikasi barang dengan lebih efisien dan real-time (waktu nyata). Dengan adanya Auto-Id , kemampuan updating basis data dapat dilakukan lebih cepat bahkan Real-Time. Auto-ID dapat dianggap sebagai usaha manusia untuk mengotomasi kegiatan identifikasi.
2.1.1 Barcode
Barcode merupakan produk Auto-ID yang pertama kali digunakan secara meluas terutama untuk identifikasi barang dan produk. Teknologi ini dimanfaatkan dengan menempelkan barang atau produk dengan suatu kode digital berbentuk label Barcode. Kode tersebut terhubung dengan basis data yang kemudian merepresentasikan keberadaan barang atau produk.

Gambar 2.1 Label Barcode
Uniform Code Council (UCC) , konsorsium asosiasi perdagangan dan distribusi makanan , mulai pengembangan untuk standarisasi barcode melalui Universal Product Code (UPC) pada tahun 1969. UPC pertama yang dikembangkan bersifat linear atau 1 dimensi (gambar 2.1). Barcode hanya menyimpan kode manufaktur dan informasi merek tetapi tidak menyimpan kode unik yang berkorelasi terhadap produk itu sendiri. Hingga tahun 1974, lahir jenis Barcode yang bersifat 2 dimensi yang mempunyai kapasitas dalam menyimpan informasi jauh lebih banyak dan terdapat kode unik barang.
Suatu sistem barcode terdiri dari 3 bagian, yaitu kode barcode, alat pembaca yang disebut Scanner dan basis data. Kode barcode biasanya berupa label yang menempel pada produk baik tercetak secara langsung pada bungkus produk maupun ditempel secara manual pada muka produk. Scannner merupakan suatu alat baca khusus kode barcode. Scanner dibangun dari sebuah perangkat optis semacam LED maupun Laser intensitas rendah dan sebuah antarmuka dengan basis data. Basis data berfungsi untuk menerima data yang dikirimkan oleh Scanner dan melakukan proses inisialisasi dan korelasi data terhadap barang yang dibaca.

Gambar 2.2 Barcode 2 Dimensi
Permasalahan Barcode muncul ketika dilakukan identifikasi terhadap produk menggunakan Scanner. Kadangkala, dan acapkali kita temui pengguna Scanner semacam di kasir swalayan memerlukan waktu yang tidak sebentar untuk mengidentifikasi barang. Barang perlu dibolak-balik didepan scanner agar posisinya tepat untuk pembacaan. Akibatnya, banyak waktu yang terbuang dan antrian pada kasir pun bertambah.
2.2 RFID versus Barcode
Barcode sebagai teknologi identifikasi pada implementasinya telah terbukti memberikan kontribusi efisiensi dan efektifitas cukup tinggi. Tetapi, hal ini tak terlepas dari kelemahannya yaitu kendala optis yang cukup mengganggu. Kelemahan ini disebabkan oleh kharakteristik cahaya yang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat digunakan. Setidaknya diperlukan kondisi tatap muka (Line of Sight –LOS), posisi pembacaan yang benar dan label kode yang bersih untuk pembacaan barcode yang sempurna. Bila salah satu kondisi tidak terpenuhi maka identifikasi akan gagal.
Tabel 2.1 Perbandingan kemampuan RFID dengan Barcode
|
|
Barcode |
RFID pasif |
|
Kondisi Baca |
Line of Sight (LOS) |
Non-Los |
|
Posisi baca |
Vertikal atau horisontal dengan toleransi tertentu |
Bebas, segala kondisi memenuhi |
|
Kecepatan Baca |
Relative (2-5 detik) |
< 100 milidetik per item |
|
Jarak baca maksimum |
± 7 cm (pendek) |
± 30 cm (pendek) ± 3 m (menengah) ± 10 m (jauh) |
|
Kemampuan |
Baca saja |
Baca dan/atau tulis |
|
Kapasitas memori |
kecil |
hingga 64kB atau lebih |
|
Proses pembacaan |
Per item, proses satu per satu |
Multi item (100 unit) per proses |
|
Kondisi buruk (debu, air ) |
Merusak label barcode, pembacaan error |
Tidak berpengaruh |
|
Kemudahan duplikasi |
Mudah |
hampir mustahil |
Tabel 2.1 menunjukkan secara jelas perbedaan kemampuan teknologi Barcode dengan RFID. Tabel tersebut sekaligus menegaskan keunggulan RFID dibanding dengan Barcode.
BAB I : Sekilas Contactless Smart Card (CSC) November 7, 2007
Posted by turasto in Buku, ebook.Tags: Buku elektronika, identifikasi, Indonesia, Mikrokontroller, Radio Frequency Identification, RF, RF ID, RFID, RFID indonesia, Smart
4 comments
BAB I
SEKILAS CONTACTLESS SMART CARD
1.1 Overview
Contactless Smart Card merupakan jenis smart card yang telah dikembangkan baru-baru ini. Kartu ini cukup unik, berbeda dengan jenis smart card umumnya, Contactless Smart Card tidak memerlukan kontak fisik dalam pemakaiannya. Selain itu, kartu tersebut mempunyai kode unik tersendiri sebagai kode identitas kartu tersebut.
Gambar 1.1 TI-Smart Card , bentuk Badge
Contactless Smart Card (CSC) ini tergolong kartu pasif, yaitu kartu yang hanya mampu menyimpan transaksi tanpa melakukan pengolahan data seperti halnya Smart Card magnetik yang umum kita kenal dan gunakan. Namun, bukan berarti teknologi ini mempunyai kemampuan terbatas. Teknologi ini bahkan dapat dipadukan dengan teknologi lain semacam barcode, Smart Card Magnetik, atau bahkan mikroprosesor bila diperlukan (lihat gambar 1.1).
1.2 Mengapa Contactless?
Sifat contactless ini merupakan ciri utama dari aplikasi CSC. Sifat ini sekaligus menjadi keunggulan teknologi ini. Dengan memanfaatkan sifat contactless, penggunaan aplikasi mampu meminimalisir kerusakan kartu dan juga edukasi bagi penggunanya. Kartu tidak perlu digesekkan dalam penggunaanya sehingga umur kartu lebih lama. Selain itu, kondisi contactless memberikan kemudahan bagi penggunanya karena pengguna hampir tidak perlu turut campur secara langsung.
Gambar 1.2
Aplikasi CSC sebagai Short range e-Payment
pada pembayaran transportasi umum
Gambar 1.3 Aplikasi CSC
untuk mencatat kehadiran karyawan.
Pembacaan kartu yang membutuhkan kondisi khusus semacam keamanan, biasanya menggunakan pembacaan jarak dekat. Aplikasi semacam ini umum diterapkan pada bidang e-payment (pembayaran elektronik) misalnya pada pembayaran tiket transportasi umum, gambar 1.2. Sedangkan, aplikasi yang hanya membutuhkan pembacaan kode kartu dan tidak membutuhkan kondisi khusus dapat dilakukan dengan pembacaan jarak jauh. Pengguna cukup membawa kartu, baik didompet, tas maupun sebagai badge, dan pembacaan masih dapat dilakukan pada saat melewati daerah pembacaan (gambar 1.3). Sehingga proses dapat berlangsung secara lebih efisien, praktis dan cepat.
1.3 Kelebihan Contactless Smart Card
Secara teknis, penggunaan teknologi ini memberikan keuntungan yang cukup banyak. Tabel 1.1 berikut memberikan gambaran sekilas mengenai kelebihan teknologi ini.
Tabel 1.1 Kelebihan Contactless Smart Card
|
Kelebihan |
Keterangan |
|
Tidak memerlukan kontak fisik |
Mudah untuk digunakan |
|
Umur kartu lebih lama |
Akibat tidak adanya kontak fisik pada penggunaannya. |
|
Kapasitas memori besar dan Variatif |
Kartu berukuran 1kByte mampu menyimpan lebih dari 200 transaksi |
|
Penggunaan dengan teknologi lain |
Penggunaan dual interface semacam mikroprosesor |
|
Sekuritas tinggi |
Data terenkripsi pada kanal RF dan atau pada memori |
|
Mampu memproses lebih dari 1 kartu pada waktu yang sama |
Adanya manejemen akses jamak, dengan anti collision |
|
Jarak baca variatif |
Jarak dekat maupun jauh |
CSC digolongkan sebagai kartu memori, sehingga sifatnya hanya baca atau tulis saja. Tidak ada pemrosesan lebih lanjut oleh mikroprosesor seperti layaknya pada Chip maupun SIM Card Selular. Tetapi, bilamana dibutuhkan, tersedia pula jenis Contactless Smart Card Dual Interface, yaitu kartu dengan kemampuan Contactless dan prosesing. Kartu jenis ini diproduksi dengan menggabungkan 2 teknologi menjadi satu, yaitu contactless Smart Card dan Microprosesor Smart Card.
Kartu CSC tersedia dengan kapasitas memori yang cukup beragam dari 512 bit, 1, 4, 8, 16 hingga 32 kByte seperti yang telah diproduksi oleh Philips melalui produknya mifare® yang ISO 14443 compliance. Sebagai ilustrasi 4kByte kartu mifare ® mampu menyimpan kurang lebih 235 jenis transaksi.
Teknologi CSC pun mengadopsi teknologi pengaman data , Enkrpsi. Teknologi ini untuk menjamin keamanan data dari penyadapan, pembajakan dan penyalahgunaan informasi pada kartu. Teknologi ini juga mengadopsi teknologi akses jamak untuk proses pembacaan simultan lebih dari satu kartu. Sehingga bila dibutuhkan, dalam satu proses dapat dilakukan transaksi pada lebih dari 1 kartu sekaligus.
1.4 RFID : Rahasia Teknologi Contactless Smart Card
Teknologi yang menjiwai CSC pada dasarnya bukanlah teknologi baru. Teknologi ini merupakan teknologi lama yang dikembangulangkan pada bidang Smart Card. Teknologi inti yang menjadi jiwa CSC adalah teknologi Radio Frequency Identification (RFID).
RFID merupakan teknologi identifikasi berbasis gelombang radio. Transfer data antara kartu dan alat baca (Reader) dilakukan secara wireless –nirkabel. Apakah kartu CSC suatu pemancar-terima Radio? Betul! Sebuah kartu CSC adalah sebuah pemancar mini dan pasif yang ditanamkan pada kartu plastik. Kartu bersifat pasif karena tidak terdapat baterai pada kartu. Catuan (energi) didapatkan melalui penangkapan Gelombang Elektro Magnetik (GEM) di udara oleh antena yang terdapat didalam CSC.
Implementasi teknologi RFID pada dasarnya tidak melulu pada bidang Smart Card. RFID juga telah dikembangkan untuk identifikasi hewan, identifikasi barang pengganti barcode, teknologi anti pencuri, manajemen barang dan beberapa aplikasi lainnya yang merupakan gabungan maupun turunan teknologi ini. Aplikasi RFID yang paling populer adalah dalam bidang identifikasi barang. Hal ini dikarenakan teknologi ini mampu mengatasi kelemahan teknologi Barcode, teknologi identifikasi yang luas diterapkan pada bidang ini, dan diharapkan mampu menggantikannya.
1.5 Biaya Infrastruktur Contactless Smart Card
Sebuah contactless smart card mempunyai infrastruktur yang sederhana. Sebuah sistem contactless Smart Card dapat terdiri dari sebuah CSC dan Reader pada aplikasi pembacaan biasa. Sedangkan pada aplikasi yang lebih besar dan kompleks dapat ditambahkan sebuah komponen basis data terpusat.
Pertanyaan mendasar mengenai teknologi baru umumnya menyangkut kelayakan teknologi tersebut, importansinya dan biaya implementasinya. Penulis rasa, untuk menjawab pertanyaan ini memerlukan riset pasar yang lebih konkret dan hal itu diluar dari bidang penulis. Tetapi menilik pentingnya jawaban atas pertanyaan ini penulis merasa untuk menjawab dalam batasan tertentu. Oleh karenanya, penulis berikan ilustrasi harga pasaran perangkat baca (Reader) dan sebuah smart Card yang ada di pasaran.
Penulis menggunakan contoh pasar Bandung pada toko-toko elektronika tertentu dengan produk pembanding Mifare®. Sebuah Reader umumnya dijual dengan harga dari Rp 350.000,00 dengan kemampuan hanya baca dan tidak mampu melakukan penulisan transaksi pada kartu. Sedangkan untuk keperluan baca dan tulis dijual dari 2 juta rupiah hingga 4 juta rupiah pada produk yang sama keluaran Philips, Mifare®. Sedangkan, sebuah kartu dijual dari 10 ribu hingga 20 ribu rupiah. Harga tersebut didapat pada survei tahun 2005 dan memungkinkan berubah sewaktu-waktu. Harga tersebut merupakan harga yang sangat murah untuk jenis teknologi ini.
1.6 Produksi Swadaya
Sebuah contactless Smart Card yang digembar-gemborkan dengan berbagai kelebihannya pada dasarnya mempunyai struktur teknologi yang sederhana. Kenyataanya, sebuah prototipe Contactless Smart Card dapat dibangun dari gerban-gerbang digital sederhana. Dengan biaya kurang dari 20 ribu, sebuah kartu prototipe dapat dibangun dengan cepat dan mudah. Sedangkan sebuah Reader dapat dibangun dengan biaya kurang dari 300 ribu rupiah. Sehingga, pada produksi masal, teknologi tersebut dapat dibuat dengan harga end-user yang jauh lebih murah.
Buku ini muncul sebagai jawaban oleh sedikitnya informasi mengenai teknologi RFID umumnya dan Contactless Smart Card khususnya. Diharapkan buku ini mampu mengantarkan pembaca hingga pemahaman sisi praktis yang didasari pemahaman teoritis hingga mendorong produksi lokal demi penetrasi teknologi RFID.
Turun Gunung November 6, 2007
Posted by turasto in Talk.Tags: Aji, Dharma, kembali, Penulis RFID, Radio Frequency Identification, Turasto, Turun gunung
3 comments
Setelah sekian lama, akhirnya bisa kembali untuk blogging.
![]()

“Turun Gunung setelah sekian lama bertapa“
Jadi, sekedar mo ucapin “Welcome Back” to myself.

